Menulis adalah bagian dari hidupku sekarang, ini mungkin bukan hanya sekedar tugas yang diberikan Pak Faozan, tapi dengan menulis ini aku akan memulai perubahan.
Saat ini aku adalah seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sebenarnya cita-citaku dulunya bukanlah menjadadi seorang guru, sebelumnya aku adalah seorang mahasiswi disalah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bandung. Dulunya cita-citaku adalah seorang Psikolog, namun kedua oranhtuaku kurang setuju dengan keputusanku dan akhirnya aku keluar dari Universitas tersebut dan mengikuti tes di UMP, yah satu-satunya yang masih buka untuk membuka pendataran mahasiswa baru.
Sempat frustasi berat, dari jauh-jauh aku sudah mempersiapkan diri untuk kuliah jauh-jauh di Bandung. Tes itu yang aku harapkan tapi orang tua tidak setuju. Aku menginginkan mereka untuk tau kenapa alasanku menjadi Psikolog. Yah memang rasanya tidak nyaman hidup kalo tidak direstui oleh orang tua. Berat untuk menjalankan.
Setahun hidup di Kota Bandung dalam nuansa yang Islami. Disitulah lingkungan orang-orang yang selalu mencari kunci surga. Dimana santri,jamaah masjid DT,pesona akhwatnya Subhanalloh….membuat para bidadari cemburu.
Kadang suka minder kenapa yah? “Harus berkhir di UMP?” “Kok jadi gini ih”…sedih memang rasanya, tapi kesedihan itu sudah hilang karena aku punya teman-teman baru yang ternyata mereka adik kelas saat SMA. Semua orang bilang “lho ko pindah ke UMP”, kadang aku berat untuk jawabnya.
Hidupku ini penuh dengan kontroversi. Mulai dari aku SMA. Aku adalah siswa SMA Negeri 5 Purwokerto, namun orang tua lagi-lagi memindahkan aku ke SMA N Banyumas. Sungguh ironis memang kadang kalau dilihat. Aku selalu ingin mendapatkan yang terbaik namun ditentang orang tua. Selama belajar di SMAN Banyumas prestasi begitu drastis turunnya. Setahun itu ta ada gairah untuk belajar. Bahkan sempat bolos saat Ujian Tengah Semester. Sekolah hanya berangkat pulang-berangkat pulang.
Tiap hari hampir selalu menangis karena masih belum terima, orangtuaku memanng sangat keras sifatnya. Kadang aku kurang bias meyakinkan mereka. Aku benci kadang keinginanku selalu ditolak. Terlau sulit untuk menjelaskan. Bapak dn Ibu kadang mungkin terlalu sibuk untuk mencari uang. Yang penting aku sekolah, kadang bukan itu yang aku maksud. Aku hanya ingin seperti teman-teman yang lain, mereka bisa bersenang-senang diusianya.
Kadang orang tua pasti ingin anaknya yang terbaik, namun menurutku caranya kurang sesuai. Semua kenangan pahit saat SMA maupun Kuliah benar- benar sudah cukup menyakitkan. Kini aku harus memulai lembaran baru, seorang teman memberiku sebuah buku yang berjudul “Ya Allah Kenapa Aku Diuji” berat banget rasanya,
Kadang masih kurang terima dengan keadaan ini. Tapi masa lalu tidak akan terulang kembali. Dan masa lalu tak akan menghampiri kita lagi. Kadang merasa sedih, aku itu kurang bersyukur apa orang tuaku yang memang benar-benar keterlaluan. Aku mengintrospeksi diri sendiri. Aku harus bersyukur karena masih banyak anak-anak seusiaku tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya.
Ibuku mulai mengerti keadaanku, “ndu mungkin ini jalan yang harus kamu tempuh” “Jalani saja dengan baik Insyaalloh bapak dan Ibu bisa ngerti”. Biasanya Ibuku tidak pernah mendekati anaknya kalo lagi seperti ini. Mungkin semuanya aka nada hikmahnya jika au kembali ke Purwokerto.
Saat bapak sedang ada urusan selama satu minggu, Ibu yang mengantar aku ke kampus, membayar uang registrasi, aku tau beliau sedang sedih karena aku. Aku belum bisa menjadi anak yang berguna, kuhabiskan uang mereka. Suatu hari Ibu dating sendirian ke UMP karena aku masih mengurusi Administrasi di kampus yang lama. Ibu sms “Ndu ibu kehujanan, sepeda motornya bocor” ibu mengirimkan pesan singkat melalui sms.
Aku menitikkan air mata, “Ya Alloh mudah-mudahan aku diampuni dosanya” aku mulai merasa aku ini paling durhaka. Kejam terhadap orang tua sendiri. Bagaimana aku bisa seperti ini. Sudahlah kini aku hanya bisa mengikuti kemauan mereka, mudah-mudahan ini keputusan yang terbaik. Saat aku berpamitan dengan teman-teman di bandung rasanya sedih.
Sedih berlarut-larut tak kan membuat beubah keadaan. Kini saatnya aku bisa buktikan kepada kedua orang tuaku kalau aku memang mampu. Aku bersyukur dengan keadaanku sekarang. Banyak teman-teman yang orang tuanya hanya petani, pedagang semangat berkuliah di UMP, padahal biayanya mahal. Itu yang membuat aku semangat.
Hidup mahasiswa… Revolusi… dan takbir di mimbar,. Aku mencoba untuk berdiri dihadapan dua ribu mahasiswa baru. Disitulah aliran energy positif mengalir, mengalir rasa semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu bahwa kuliah di UMP tidak boleh disepelekan.
Semangat kuliah semakin bertambah ketika kuliah dengan Ibu Liana pada mata kuliah linguistik beliau mengungkapkan “Menjadi guru merupakan tugas yang sangat mulia, karena separuh kakinya melangkah dalam kebaikan dan surga “.
Kata-kata beliau aku tulis dalam catatan kecil dan pahami. Sekarang aku sudah ta memikirkan berapa gaji yang akan diberikan. Aku tidak boleh memandang sebelah mata seorang guru. Karena Ibuku sendiri adalah seorang guru.
Fokuslah pada kelebihan, jangan pada kekurangan. Itulah kata-kata motivator yang aku dengar. Aku pernah menulis bahwa aku ingin menjadi seseorang dosen Psikologi di UMP, mungkin Alloh menununjukkan jalan yang lain untuk aku kuliah di UMP dan merintis karier dari seorang mahasiswa. Seperti Pak Faozan. Menjadi dosen Bahasa Indonesia.

No comments:
Post a Comment